HTML5 Powered with CSS3 / Styling, and SemanticsLevel Double-A conformance, 
          W3C WAI Web Content Accessibility Guidelines 2.0

  •  

    gambar
  • gambardifabel
  • gambardifabel
  • gambardifabel
  • gambardifabel
  • gambardifabel
  •  
    sipp
  • gambar
  • gambar
  • sms
  •  

    gambar
  •  

    gambardifabel
  • eksekusi-riil
  • Selamat Datang

    Selamat Datang Selamat Datang di Website Resmi Pengadilan Negeri Yogyakarta. Website ini merupakan website pengadilan yang sudah sesuai dengan Pedoman Rancangan dan Prinsip Aksesibilitas Website Pengadilan di Lingkungan Mahkamah Agung.

    Lebih Lanjut

  • e-Court

    e-Court adalah layanan bagi Pengguna Terdaftar untuk Pendaftaran Perkara Secara Online, Mendapatkan Taksiran Panjar Biaya Perkara secara online, Pembayaran secara online dan Pemanggilan yang dilakukan dengan saluran elektronik.

    Lebih Lanjut

  • e-raterang

    Eraterang dalah Elektronik Surat Keterangan Direktorat Jenderal Badan Peradilan Umum Mahkamah Agung RI yang merupakan media elektronik dalam memberikan pelayanan permohonan Surat Keterangan pada Pengadilan Negeri.

    Lebih Lanjut

  • Sistem Informasi Penelusuran Perkara

    Sistem Informasi Penelusuran Perkara adalah aplikasi resmi dari Mahkamah Agung Republik Indonesia untuk membantu para pencari keadilan dalam monitoring proses penyelesaian perkara yang ada di Pengadilan Negeri Yogyakarta

    Masuk SIPP

  • Small Claim Court

    Agar warga negara lancar dalam mengurus usahanya, tentu proses mengurus sengketa bisnis perlu dipersingkat, sehingga tidak membuang waktu serta terbukanya akses bagi masyarakat kecil untuk mendapatkan keadilan di Pengadilan. Semuanya demi asas peradilan yang sederhana, cepat, biaya ringan.

    Lebih Lanjut

  • SIWAS - Whistleblowing System

    Bagi Anda yang memiliki informasi dan ingin melaporkan suatu perbuatan berindikasi pelanggaran yang terjadi di lingkungan Mahkamah Agung Republik Indonesia atau Peradilan di bawahnya, Badan Pengawasan Mahkamah Agung Republik Indonesia akan merahasiakan identitas diri anda sebagai whistleblower dan menghargai informasi yang Anda laporkan. Fokus kami kepada materi informasi yang Anda Laporkan

    LAPORKAN DENGAN SIWAS!!

  • Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP)

    PTSP merupakan bentuk reformasi regulasi dan reformasi birokrasi. Pelayanan yang tersebar dikepaniteraan dan kesekretariatan disatukan dalam satu pintu, satu tempat ptsp. Mulai dari tahap awal sampai dengan proses layanan, penyelesaian layanan, dengan menyederhanakan prosedur, agar efektif, efisien, transparan, terukur dan akuntabel, biaya murah dan menghindari penyelewengan.

    Lebih Lanjut

  • Pos Layanan Hukum

    Bebas biaya perkara bagi yang tidak mampu. Anda yang kurang mampu berhak mendapatkan layanan bantuan hukum secara cuma-cuma. Gunakan hak anda untuk memanfaatkan POSYANKUM

    Lebih Lanjut

  • Mendukung Aksesibilitas Difabel

    Situs Pengadilan Negeri Yogyakarta memiliki fitur aksesibilitas sesuai WCAG 2.0 seperti pengatur ukuran font, kontras warna, konversi teks ke suara untuk membantu para pencari keadilan khusus difabel dalam mengambil informasi di situs Pengadilan. Fitur AccessKey navigasi keyboard juga ditanamkan di situs ini bagi difabel mandiri

  • Eksekusi Riil

    Untuk meningkatkan pelayanan kepada pengguna layanan pengadilan dapat mendorong pelayanan yang cepat, mudah, transparan, terukuru dan terjangkau khususnya dalam pelaksanaan eksekusi perkara perdata pada pengadilan negeri, berikut mekanismenya

    Lebih Lanjut

e-Court

e-Berpadu

Eraterang

SIPP

Direktori Putusan

SI SUPER

JDIH

INAPROC

SIWAS

Yanti Online

PERKUSI

SIPPN MENPAN

LIRIKAN - KORBAN KEKERASAN SEKSUAL

RESTITUSI BAGI KORBAN KEKERASAN SEKSUAL

TAHAP PENYIDIKAN ATAU PENUNTUTAN

 

  1. A. Ruang Lingkup Pemohon
  1. 1. Korban Kekerasan Seksual
  2. 2. Keluarga
  3. 3. Orang Tua
  4. 4. Wali
  5. 5. Ahli waris
  6. 6. Kuasa Hukum
  7. 7. atau Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK)
  1. B. Tindak Pidana yang Dapat Dimohonkan Restitusi

Seluruh tindak Pidana yang menjadi ruang lingkup Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual

  1. C. Hak Restitusi Korban Kekerasan Seksual
  1. 1. ganti kerugian atas kehilangan kekayaan dan/atau penghasilan;
  2. 2. ganti kerugian, baik materiil maupun imateriil, yang ditimbulkan akibat penderitaan yang berkaitan langsung sebagai akibat tindak pidana;
  3. 3. penggantian biaya perawatan medis dan/atau psikologis; dan/atau
  4. 4. kerugian lain yang diderita Korban Kekerasan Seksual sebagai akibat tindak pidana, termasuk biaya transpartasi dasar, biaya pengacara, atau biaya lain yang berhubungan dengan proses hukum.
  1. D. Cara Mengajukan Permohonan Restitusi
  1. 1. Menghubungi Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK)

Untuk lebih memudahkan Calon Pemohon Restitusi dalam mengajukan Permohonan, Calon Pemohon dapat menghubungi:

Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban

Kantor Perwakilan Yogyakarta

Jl. Kusumanegara No.11, Semaki, Kec. Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55166

  1. 2. Mengajukan Langsung kepada Penyidik atau Penuntut

Apabila perkara Pidana Calon Pemohon masih dalam tahap Penyidikan atau Penuntutan, maka Calon Pemohon yang akan mengajukan Permohonan Restitusi dapat menghubungi langsung Penyidik atau Penuntut yang sedang menangani perkara Pidana Calon Pemohon, atau dapat menghubungi langsung instansi Penyidik atau Penuntut:

No.

Nama Instansi

Alamat

1

Kejaksaan Negeri Yogyakarta

Jl. Sukonandi No. 6

2

Kepolisian Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta

Jl. Ring Road Utara, Kec. Depok, Kab. Sleman

3

Kepolisian Resor Kota Yogyakarta

Jl. Reksobayan No.1

4

Kepolisian Sektor Gondomanan

Jl. Lobaningratan No.1

5

Kepolisian Sektor Wirobrajan

Jl. Kapten Tendean Nomor 595

6

Kepolisian Sektor Pakualaman

Jl. Purwanggan No. 53

7

Kepolisian Sektor Kotagede

Jl. Nyi Pembayun No. 34

8

Kepolisian Sektor Umbulharjo

Jl. Menteri Supeno No. 105

9

Kepolisian Sektor Danurejan

Jl. Krasak Timur No. 40

10

Kepolisian Sektor Gedongtengen

Jl. Jlagran No. 12

11

Kepolisian Sektor Kraton

Jl. Suryoputran No. 13

12

Kepolisian Sektor Jetis

Jl. Kyai Mojo No. 3

13

Kepolisian Sektor Tegalrejo

Jl. Magelang No. 184

14

Kepolisian Sektor Ngampilan

Jl. Aipda KS Tubun No. 28

15

Kepolisian Sektor Gondokusuman

Jl. Melati Wetan No. 6

16

Kepolisian Sektor Mantrijeron

Jl. Mayjen DI Panjaitan No. 1

17

Kepolisian Sektor Mergangsan

Jl. Sisingamangaraja No. 55A

 

  1. 3. Proses Pengajuan Permohonan Restitusi
  1. a. Berkas Permohonan Restitusi akan diberikan kepada Pengadilan Negeri bersamaan atau menjadi satu berkas dengan berkas pokok perkara ketika pelimpahan berkas dari Kejaksaan Negeri ke Pengadilan Negeri
  2. b. Permohonan Restitusi akan dicantumkan di dalam Dakwaan
  3. c. Majelis Hakim wajib melibatkan LPSK
  4. d. Hakim wajib menetapkan besarnya Restitusi terhadap Tindak Pidana Kekerasan Seksual yang diancam dengan pidana penjara 4 (empat) tahun atau lebih
  5. e. Pada saat persidangan telah dimulai, Majelis Hakim akan memberikan kesempatan kepada Pemohon dan LPSK untuk menyampaikan keterangan beserta alat bukti yang berkaitan dengan permohonan restitusi
  6. f. Terdakwa diberikan kesempatan untuk memberikan tanggapan
  7. g. Permohonan restitusi tersebut wajib dicantumkan dalam tuntutan

 

  1. E. Pelaksanaan Putusan Restitusi
  1. 1. Pemberitahuan Putusan Restitusi

Salinan Putusan Restitusi akan disampaikan kepada pihak Korban Kekerasan Seksual dan LPSK paling lambat 7 (tujuh) hari dihitung sejak Putusan diucapkan

  1. 2. Waktu Pelaksanaan

Pemberian Restitusi dilaksanakan paling lambat 30 (tiga puluh} Hari sejak pelaku tindak pidana menerima salinan putusan Pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap atau 30 (tiga puluh) Hari sejak penetapan Pengadilan diucapkan atau diberitahukan dalam hal Restitusi diajukan setelah putusan perkara pokok berkekuatan hukum tetap

  1. 3. Keterlambatan Pelaksanaan Restitusi oleh Terpidana
  1. a. Dalam hal pelaksanaan pemberian Restitusi berdasarkan putusan pengadilan kepada Korban Kekerasan Seksual melampaui batas waktu, Pemohon dan/atau LPSK melaporkan hal tersebut kepada penuntut umum dengan tembusan kepada Ketua Pengadilan
  2. b. Penuntut umum memerintahkan pelaku tindak pidana dan/atau pihak ketiga untuk melaksanakan pemberian Restitusi paling lambat 14 (empat belas) Hari terhitung sejak tanggal surat perintah diterima
  3. c. Pengadilan memerintahkan kepada pelaku tindak pidana dan/atau pihak ketiga untuk melaksanakan pemberian Restitusi paling lambat 14 (empat belas) Hari terhitung sejak tanggal surat perintah diterima
  4. d. Dalam hal pelaksanaan pemberian Restitusi kepada Korban Kekerasan Seksual tidak dipenuhi sampai melampaui batas waktu, Pemohon dan/atau LPSK memberitahukan hal tersebut kepada Jaksa Agung/Jaksa/Oditur
  5. e. Dalam hal Penyidik melakukan penyitaan terhadap harta kekayaan pelaku Tindak Pidana Kekerasan Seksual sebagai jaminan Restitusi dengan izin pengadilan negeri setempat, Jaksa akan melelang sita jaminan tersebut
  6. f. Setelah menerima pemberitahuan tersebut, Jaksa Agung/Jaksa/Oditur menyita harta kekayaan pelaku tindak pidana dan melelang harta kekayaan tersebut untuk memenuhi pembayaran Restitusi dalam waktu paling lambat 30 (tiga puluh) Hari
  7. g. Dalam hal harta kekayaan terpidana yang disita tidak mencukupi biaya Restitusi, negara memberikan kompensasi sejumlah Restitusi yang kurang bayar kepada Korban Kekerasan Seksual sesuai dengan putusan pengadilan
  1. 4. Pelaporan Pelaksanaan Restitusi
  1. a. Ketua Pengadilan menerima laporan dan bukti pelaksanaannya telah dilaksanakannya penetapan restitusi bagi Korban Kekerasan Seksual dari Jaksa
  2. b. Ketua Pengadilan menerima tembusan laporan beserta bukti pelaksanaan pemberian restitusi dari Termohon/Terpidana kepada Pemohon
  3. c. Dalam hal pemberian Restitusi dilakukan secara bertahap, setiap tahapan pelaksanaan atau keterlambatan pelaksanaan harus dilaporkan Korban Kekerasan Seksual, Keluarga, atau kuasanya, dan LPSK kepada Ketua Pengadilan
  4. d. Kepaniteraan Pidana mengumumkan pelaksanaan pemberian restitusi melalui media elektronik, maupun non elektronik

RESTITUSI BAGI KORBAN KEKERASAN SEKSUAL

TAHAP PEMERIKSAAN SIDANG

 

  1. A. Ruang Lingkup Pemohon
  1. 1. Korban Kekerasan Seksual
  2. 2. Keluarga
  3. 3. Orang Tua
  4. 4. Wali
  5. 5. Ahli waris
  6. 6. Kuasa Hukum
  7. 7. atau Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK)
  1. B. Tindak Pidana yang Dapat Dimohonkan Restitusi

Seluruh tindak Pidana yang menjadi ruang lingkup Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual

  1. C. Hak Restitusi Korban Kekerasan Seksual
  1. 1. ganti kerugian atas kehilangan kekayaan dan/atau penghasilan;
  2. 2. ganti kerugian, baik materiil maupun imateriil, yang ditimbulkan akibat penderitaan yang berkaitan langsung sebagai akibat tindak pidana;
  3. 3. penggantian biaya perawatan medis dan/atau psikologis; dan/atau
  4. 4. kerugian lain yang diderita Korban Kekerasan Seksual sebagai akibat tindak pidana, termasuk biaya transportasi dasar, biaya pengacara, atau biaya lain yang berhubungan dengan proses hukum.
  1. D. Cara Mengajukan Permohonan Restitusi
  1. 1. Menghubungi Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK)

Untuk lebih memudahkan Calon Pemohon Restitusi dalam mengajukan Permohonan, Calon Pemohon dapat menghubungi:

Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban

Kantor Perwakilan Yogyakarta

Jl. Kusumanegara No.11, Semaki, Kec. Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55166

  1. 2. Mengajukan maksimal sebelum acara persidangan Pembacaan Tuntutan

Permohonan Restitusi dapat diajukan oleh Calon Pemohon pada saat perkara sudah mulai dipersidangkan dengan ketentuan Permohonan Restitusi diajukan paling lama adalah sebelum Pembacaan Tuntuan oleh Penuntut Umum.

Dalam hal Korban Kekerasan Seksual tidak mengajukan permohonan restitusi pada tahap penyidikan/penuntutan, Hakim wajib memberitahukan hak restitusi kepada Korban Kekerasan Seksual ketika Korban Kekerasan Seksual dan/atau keluarga Korban Kekerasan Seksual ketika pemeriksaan Saksi

  1. 3. Proses Pengajuan Permohonan Restitusi
  1. a. Berkas Permohonan Restitusi harus ditujukan kepada Ketua Pengadilan Negeri, bukan kepada Majelis Hakim Pemeriksa Perkara
  2. b. Ketua Pengadilan Negeri nantinya yang akan memberikan berkas permohonan Restitusi yang telah diterimanya kepada Majelis Hakim pemeriksa perkara
  3. c. Majelis Hakim wajib melibatkan LPSK
  4. d. Hakim wajib menetapkan besarnya Restitusi terhadap Tindak Pidana Kekerasan Seksual yang diancam dengan pidana penjara 4 (empat) tahun atau lebih
  5. e. Majelis Hakim akan memberikan kesempatan kepada Pemohon dan LPSK untuk menyampaikan keterangan beserta alat bukti yang berkaitan dengan permohonan restitusi
  6. f. Terdakwa diberikan kesempatan untuk memberikan tanggapan
  7. g. Permohonan restitusi tersebut wajib dicantumkan dalam tuntutan

 

  1. E. Pelaksanaan Putusan Restitusi
  1. 1. Pemberitahuan Putusan Restitusi

Salinan Putusan Restitusi akan disampaikan kepada pihak Korban Kekerasan Seksual dan LPSK paling lambat 7 (tujuh) hari dihitung sejak Putusan diucapkan

  1. 2. Waktu Pelaksanaan

Pemberian Restitusi dilaksanakan paling lambat 30 (tiga puluh} Hari sejak pelaku tindak pidana menerima salinan putusan Pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap atau 30 (tiga puluh) Hari sejak penetapan Pengadilan diucapkan atau diberitahukan dalam hal Restitusi diajukan setelah putusan perkara pokok berkekuatan hukum tetap

  1. 3. Keterlambatan Pelaksanaan Restitusi oleh Terpidana
  1. a. Dalam hal pelaksanaan pemberian Restitusi berdasarkan putusan pengadilan kepada Korban melampaui batas waktu, Pemohon melaporkan hal tersebut kepada penuntut umum dengan tembusan kepada Ketua Pengadilan
  2. b. Penuntut umum memerintahkan pelaku tindak pidana dan/atau pihak ketiga untuk melaksanakan pemberian Restitusi paling lambat 14 (empat belas) Hari terhitung sejak tanggal surat perintah diterima
  3. c. Pengadilan memerintahkan kepada pelaku tindak pidana dan/atau pihak ketiga untuk melaksanakan pemberian Restitusi paling lambat 14 (empat belas) Hari terhitung sejak tanggal surat perintah diterima
  4. d. Dalam hal pelaksanaan pemberian Restitusi kepada Korban tidak dipenuhi sampai melampaui batas waktu, Pemohon dan/atau LPSK memberitahukan hal tersebut kepada Jaksa Agung/Jaksa/Oditur
  5. e. Dalam hal Penyidik melakukan penyitaan terhadap harta kekayaan pelaku Tindak Pidana Kekerasan Seksual sebagai jaminan Restitusi dengan izin pengadilan negeri setempat, Jaksa akan melelang sita jaminan tersebut
  6. f. Setelah menerima pemberitahuan tersebut, Jaksa Agung/Jaksa/Oditur menyita harta kekayaan pelaku tindak pidana dan melelang harta kekayaan tersebut untuk memenuhi pembayaran Restitusi dalam waktu paling lambat 30 (tiga puluh) Hari
  7. g. Dalam hal harta kekayaan terpidana yang disita tidak mencukupi biaya Restitusi, negara memberikan kompensasi sejumlah Restitusi yang kurang bayar kepada Korban Kekerasan Seksual sesuai dengan putusan pengadilan
  1. 4. Pelaporan Pelaksanaan Restitusi
  1. a. Ketua Pengadilan menerima laporan dan bukti pelaksanaannya telah dilaksanakannya penetapan restitusi bagi Korban Kekerasan Seksual dari Jaksa
  2. b. Ketua Pengadilan menerima tembusan laporan beserta bukti pelaksanaan pemberian restitusi dari Termohon/Terpidana kepada Pemohon
  3. c. Dalam hal pemberian Restitusi dilakukan secara bertahap, setiap tahapan pelaksanaan atau keterlambatan pelaksanaan harus dilaporkan Korban Kekerasan Seksual, Keluarga, atau kuasanya, dan LPSK kepada Ketua Pengadilan
  4. d. Kepaniteraan Pidana mengumumkan pelaksanaan pemberian restitusi melalui media elektronik, maupun non elektronik

 

 

 

RESTITUSI BAGI KORBAN KEKERASAN SEKSUAL

TAHAP PASCA PUTUSAN POKOK PERKARA BERKEKUATAN HUKUM TETAP

 

  1. A. Ruang Lingkup Pemohon
  1. 1. Korban Kekerasan Seksual
  2. 2. Keluarga
  3. 3. Orang Tua
  4. 4. Wali
  5. 5. Ahli waris
  6. 6. Kuasa Hukum
  7. 7. atau Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK)
  1. B. Tindak Pidana yang Dapat Dimohonkan Restitusi

Seluruh tindak Pidana yang menjadi ruang lingkup Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual

  1. C. Hak Restitusi Korban Kekerasan Seksual
  1. 1. ganti kerugian atas kehilangan kekayaan dan/atau penghasilan;
  2. 2. ganti kerugian, baik materiil maupun imateriil, yang ditimbulkan akibat penderitaan yang berkaitan langsung sebagai akibat tindak pidana;
  3. 3. penggantian biaya perawatan medis dan/atau psikologis; dan/atau
  4. 4. kerugian lain yang diderita Korban Kekerasan Seksual sebagai akibat tindak pidana, termasuk biaya transportasi dasar, biaya pengacara, atau biaya lain yang berhubungan dengan proses hukum.
  1. D. Cara Mengajukan Permohonan Restitusi
  1. 1. Menghubungi Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK)

Untuk lebih memudahkan Calon Pemohon Restitusi dalam mengajukan Permohonan, Calon Pemohon dapat menghubungi:

Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban

Kantor Perwakilan Yogyakarta

Jl. Kusumanegara No.11, Semaki, Kec. Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55166

  1. 2. Syarat Pengajuan Permohonan Restitusi
  1. a. Diajukan ketika dalam Putusan pokok perkara pihak Korban Kekerasan Seksual tidak mengajukan permohonan restitusi
  2. b. Permohonan diajukan paling lama 90 (sembilan puluh) Hari sejak Pemohon mengetahui putusan Pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap
  3. c. Pengajuan permohonan tidak dikenakan biaya
  4. d. Terpidana menjadi pihak Termohon
  5. e. Kejaksaan Negeri menjadi pihak terkait dalam permohonan Restitusi
  1. 3. Proses Pengajuan Permohonan Restitusi
  1. a. Panitera Muda Pidana memeriksa kelengkapan permohonan dalam waktu paling lama 2 (dua) Hari setelah permohonan diajukan 
  2. b. Dalam hal permohonan belum lengkap, Panitera Muda Pidana mengembalikan berkas permohonan dan memberitahukan secara tertulis kepada Pemohon atau LPSK untuk memperbaiki dan melengkapi permohonannya paling lama 7 (tujuh) Hari dihitung sejak pemberitahuan diterima
  3. c. Nomor register yang didapatkan Pemohon Restitusi: .../Res.Pid/20.../PN ... Jo. Nomor pokok perkara pidananya
  4. d. Diperiksa oleh Hakim tunggal
  5. e. Pemeriksaan persidangan meliputi: pembacaan permohonan Pemohon; pembacaan jawaban Termohon; pemeriksaan alat bukti; dan pembacaan penetapan.
  6. f. Pengadilan wajib memutus permohonan dalam bentuk penetapan paling lama 21 {dua puluh satu) Hari sejak sidang pertama.
  7. g. Penetapan Permohonan Restitusi hanya dapat diajukan upaya hukum banding
  8. h. Penetapan Pengadilan banding bersifat final dan mengikat.
  1. E. Pelaksanaan Putusan Restitusi
  1. 1. Pemberitahuan Putusan Restitusi
  1. a. Dalam hal permohonan Restitusi diajukan melalui LPSK, salinan penetapan Pengadilan disampaikan kepada LPSK paling lambat 7 (tujuh) Hari dihitung sejak penetapan diucapkan
  2. b. LPSK menyampaikan salinan penetapan kepada Korban Kekerasan Seksual /Pemohon dan Pelaku/Termohon paling lambat 7 (tujuh) Hari dihitung sejak tanggal penerimaan penetapan
  3. c. Dalam hal permohonan diajukan oleh Korban Kekerasan Seksual /Pemohon, salinan penetapan Pengadilan disampaikan langsung kepada Korban Kekerasan Seksual /Pemohon dan Pelaku/Termohon paling lambat 7 (tujuh) Hari dihitung sejak putusan diucapkan
  1. 2. Waktu Pelaksanaan

Pemberian Restitusi dilaksanakan paling lambat 30 (tiga puluh} Hari sejak pelaku tindak pidana menerima salinan putusan Pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap atau 30 (tiga puluh) Hari sejak penetapan Pengadilan diucapkan atau diberitahukan dalam hal Restitusi diajukan setelah putusan perkara pokok berkekuatan hukum tetap

  1. 3. Keterlambatan Pelaksanaan Restitusi oleh Terpidana
  1. a. Dalam hal pelaksanaan pemberian Restitusi berdasarkan putusan pengadilan kepada Korban melampaui batas waktu, Pemohon melaporkan hal tersebut kepada penuntut umum dengan tembusan kepada Ketua Pengadilan
  2. b. Penuntut umum memerintahkan pelaku tindak pidana untuk melaksanakan pemberian Restitusi paling lambat 14 (empat belas) Hari terhitung sejak tanggal surat perintah diterima
  3. c. Pengadilan memerintahkan kepada pelaku tindak pidana untuk melaksanakan pemberian Restitusi paling lambat 14 (empat belas) Hari terhitung sejak tanggal surat perintah diterima
  4. d. Dalam hal pelaksanaan pemberian Restitusi kepada Korban tidak dipenuhi sampai melampaui batas waktu, Pemohon atau LPSK memberitahukan hal tersebut kepada Jaksa Agung/Jaksa/Oditur
  5. e. Dalam hal Penyidik melakukan penyitaan terhadap harta kekayaan pelaku Tindak Pidana Kekerasan Seksual sebagai jaminan Restitusi dengan izin pengadilan negeri setempat, Jaksa akan melelang sita jaminan tersebut
  6. f. Setelah menerima pemberitahuan tersebut, Jaksa Agung/Jaksa/Oditur menyita harta kekayaan pelaku tindak pidana dan melelang harta kekayaan tersebut untuk memenuhi pembayaran Restitusi dalam waktu paling lambat 30 (tiga puluh) Hari
  7. g. Dalam hal harta kekayaan terpidana yang disita tidak mencukupi biaya Restitusi, negara memberikan kompensasi sejumlah Restitusi yang kurang bayar kepada Korban Kekerasan Seksual sesuai dengan putusan pengadilan
  1. 4. Pelaporan Pelaksanaan Restitusi
  1. a. Ketua Pengadilan menerima laporan dan bukti pelaksanaannya telah dilaksanakannya penetapan restitusi bagi Korban Kekerasan Seksual dari Jaksa
  2. b. Ketua Pengadilan menerima tembusan laporan beserta bukti pelaksanaan pemberian restitusi dari Termohon/Terpidana kepada Pemohon
  3. c. Dalam hal pemberian Restitusi dilakukan secara bertahap, setiap tahapan pelaksanaan atau keterlambatan pelaksanaan harus dilaporkan Korban Kekerasan Seksual, Keluarga, atau kuasanya kepada Ketua Pengadilan
  4. d. Kepaniteraan Pidana mengumumkan pelaksanaan pemberian restitusi melalui media elektronik, maupun non elektronik